Jumat, 03 November 2017

Jalan-jalan Ke "HABANG", Pastikan Nyantai Di Gunung Muntai

Pemandangan Pagi Nan Aduhai Di Lereng Gunung Muntai
Kenapa harus Muntai?
Karena Boleh Dibilang ini Gunung Tertinggi di Tanah Junjung Besaoh. Dan ini tentang Ulin saya bersama Reno, Fauzan, Arif dan Dede saat mengunjungi Kabupaten Bangka Selatan tepatnya di Kecamatan Toboali,
Kota yang sering dipanggil HABANG (aslinya Sabang) oleh kebanyakan masyarakatnya. Jangan aneh jika orang Toboali kerap mengganti kata berhuruf "S" menjadi "H", Contohnya Sabun menjadi Habun, Sabang menjadi Habang, Dan lain Hebagainya. 
 
Sebenarnya Gunung Muntai tergolong kedalam bukit tingginya sekitar 300 Meter di atas permukaan laut. Di Bangka Belitung jarang terdapat gunung dengan ketinggian diatas 1000 MDPL. Gunung tertinggi di pulau Bangka dan Belitung yaitu Gunung Maras dan Gunung Tajam ketinggian Gunung Tajam yang ada dipulau Belitung  hampir 600 meter dan 700 MDPL untuk Gunung Maras di Kabupaten Bangka. Apapun namanya kali ini akhirnya kita manjat lagi, meski pakai kendaraan.



Rute Asik Ala Muntai
Sebelum sampai ke kaki bukit kita masih harus menyusuri beberapa dusun dengan kondisi jalannya yang masih tanah merah. Proses perjalanan terbilang lanjay (lancar jaya) saya dibonceng Pak Dian menggunakan motor trail nya.  Jadi rute-rute off road saat melewati jalan becek dan berlumpur bisa dilahap habis. Sementara kawan-kawan yang lain harus naik mobil Taft-nya Pak Samsul sekalian mengangkut perlengkapan dan sembako.
Tanjakan tanpa henti di Muntai


Sepuluh menit naik motor akhirnya rute tanah merah berganti aspal, kondisinya lumayan bagus walau tidak terlalu mulus.
"Rute disini nggak seberapa Dibanding Mangkol (Gunung) atau Gunung Tajam Rul" kata  Pak Dian Kordinator Pemancar TVRI Gunung Muntai. Jadi penasaran bagaimana rute perjalanan menuju Gunung Mangkol dan Gunung Tajam. Walau itung-itungnya Pak Dian rutenya tidak seberapa ada juga tanjakan yang menurut saya terbilang ekstrim, sebagiannya bahkan ada yang hampir 90 derajat walau dengan jarak yang sedang dan tidak terlalu panjang. 

Pemancar TVRI Di Puncak Gunung Muntai
Hingga mendekati puncak jalan bebatuan masih harus kita lewati. Dan saat tiba tepat dipuncak,  kantor stasiun pemancar TVRI Gunung Muntai langsung menyambut kami. Tiang pemancar setinggi 40an meter berdiri kokoh disamping gedung. Angin sore saat kita tiba cukup kencang seliweran, faktor inilah yang membatalkan kita untuk menerbangkan drone.
Karena penasaran dengan ketinggian pemancar kita pun iseng naik ke atap gedung.  Dari sini hembusan angin makin kencang terasa, pemandangan alam pun masih sempat terlihat meski terhalang rimbunnya pepohonan dan mulai meredupnya matahari diufuk barat. Kita juga sempat melihat lutung hutan yang loncat lincah dipepohonan. Kata Pak Dian habitat Lutung memang banyak ditemui digunung ini. Syukurlah berarti kondisi hutan gunung masih alami dan banyak lutung yang betah tinggal disini. Matahari semakin tenggelam saat kita nikmatin puncak muntai, dan suasana sunsetnya pas banget buat diabadikan.

sweet hours in Muntai



Malam Yang Santai Di Puncak Muntai
Tidak ada yang spesial dari malam kami menginap di Muntai, yang ada hanya malam yang santai, tenang, dan jauh dari keterasingan,yang jelas ini malam yang sangat bernilai. 


Ngerumpi Asik Hingga Mata Males Melek
Kadang kita perlu momen yang sepi seperti ini untuk menyegarkan otak dari ruetnya keramaiayang rutin sekali kita jumpai. Merasakan senyapnya tinggal di Muntai jadi kebayang bagaimana Pak Dian, pak samsul dan kawan-kawan lainnya bermalam disini setiap harinya sejak belasan tahun lalu. Pak Dian  bahkan pernah membawa istri-nya tinggal dipuncak Gunung Muntai selama dua tahun, diawal pernikahan mereka. Nggak kebayang!!! saya hanya bisa mangap mendengarkan cerita pak dian saat itu. Obrolan ringan ditemani kopi dan kacang menemani waktu santai kami malam itu. Hingga akhirnya kami semua lelap tidur.


Pagi Sejuk Ala Muntai
Selepas subuh saya mulai bersiap menyambut matahari dan merasakan udara sejuk ala muntai. Fauzan sudah inisiatif mengincar sunrise diatas gedung. Walau akhirnya sunrise yang dinanti terhalang banyak pepohonan. Pak Dian kemudian mengajak kami untuk berjalan menuju lereng bukit tempat dimana kebun sahang dan pondok sahang berada. "Mungkin dari sini kita bisa nikmatin sunrise lebih baik dari pada diatas gedung pemancar", saran Pak Dian. Saya, Arief dan Fauzan langsung beranjak melipir.
Pondok Tempat Nongkrongnya petani sahang
Benar saja dari sini pemandangan pagi hari begitu menawan. Udaranya yang sejuk, sautan burung hutan yang nggak berhenti berkicau, dan matahari pagi yang hangat memanjakan kami. Saya fauzan dan Pak Dian dan arief Langsung bersantai di pondok kebun sahang milik petani lada biasa beristirahat. Boleh dibilang dari setiap momen yang kita lewati dihari sebelumnya mungkin ini momen terbaik yang kami rasakan. Elok dan merasuk jiwa hingga asa!!!.

Pemandangan Pagi yang manjain mata
Spot Menyambut Mentari Pagi yang pas
Kuning matahari membalut Puluhan pohon sahang yang tertanam dilereng gunung muntai, ada bukit-bukit kecil terhampar dan terlihat jelas dari di atas sini. intinya pemandangan pagi ini begitu menawan. Saat matahari mulai terasa panas dan panggilan sarapan mulai digaungkan kami pun meninggalkan pondok dan kebun sahang untuk kembali ke gedung pemancar.

Ada Anggur Bangka di Puncak Muntai
Daya tarik lain dari puncak Gunung Muntai adalah keberadaan aneka buah. Meski jumlahnya tidak skala perkebunan besar, tapi lumayan untuk dinikmati, beberapa bisa kita petik saat musim panen tiba. Seperti buah rukam, jambu air, kelapa, mangga hingga durian. Saat musim durian tiba akan banyak pohon durian liar yang berbuah di Gunung Muntai, kebetulan saja tidak sedang musim durian jadi hanya cerita manis dari Pak Dian yang kami dapat.

Buah Rukam, Biar kesat tapi Nagih
Terciduk, Pemanjat Ulungs
Beruntung ada buah rukam, buah yang pohonnya tumbuh subur didepan gedung pemancar terlihat merah dan matang dari kejauhan dan langsung kita panen. Orang bangka biasa mengenalnya dengan Anggur Bangka. Fauzan bilang buah ini tergolong langka, selain jarang dijual dipasaran pohonnya sudah tidak banyak lagi ditemukan. Jadi beruntung banget dapat melihat pohon rukam dan menikmati buahnya. Rasa Buah ini kesat dan ada juga yang manis. Pohonnya seperti pohon jeruk, terdapat banyak duri dan cukup tajam, jangan coba buat manjatin pohon ini dengan telanjang kaki amannya gunakan saja tangga.

Ngentem Kelapa Muda
Petualangan kami dipuncak Gunung Muntai Diakhiri dengan mencicipi kelapa, rukam dan juga jambu air. kami pun kembali menuruni gunung saat siang. Pengalaman bersantai di Gunung Muntai menjadi daya tarik yang membuat kami selalu ingin kembali. Walau bukan destinasi wisata Gunung Muntai menyimpan kesejukkan dan ketentraman yang alami dan layak untuk di kunjungi. 
Muntai Explorer
Load disqus comments

0 komentar