Jumat, 19 Januari 2018

Nungki sambil Ngupi di Kupi Kuli

Warkopnya museum timah
Ngupi menjadi ritual pelangkap nungki (baca:nongkrong). Asalkan minuman ini tersaji, ngobrol jadi lebih asik sampai lupa durasi. Niat awalnya pengen menjawab rasa penasaran tentang museum kata Andrea Hirata. nggak dinyana ada kedai kupi kuli diujung gedung utama museum kata. 
Karena gaya kedai ngopinya hommie banget akhirnya saya, om Prisman dan Sultan mutusin buat ngupi dulu disini. Sekalian melepas lelah setelah satu  setengah jam perjalanan kami tempuh dari Tanjungpandan menuju Gantong Belitung Timur.
Rumah yang digunakan sebagai museum kata ini adalah bekas rumah pegawai timah yang dibeli oleh Andrea Hirata. Seperti rumah pada biasanya terdapat dapur di gedung bagian belakang. Dapur inilah yang menjadi warkop kupi kuli.
Gaya interior yang nyentrik dan gak biasa
Ada Cendramata dan Marchandise yang dijual tepat disebelah Warkop
Ada empat meja bundar yang ditata rapi dibagian tengah plus lima kursi kayu yang disusun melingkar pada keempat mejanya. Diatas setiap meja terdapat aneka makanan khas Belitung dan makanan ringan kreasi rumahan lainnya. Suasana dapur bergaya rumah zaman old nampak banget di kedai ini.
Ada tungku dipojok kanan lengkap dengan dua teko lawas yang digunakan  memanaskan air. Rak-rak kecil dengan gelas dan tumpukan perabotan lainnya juga tersimpan tidak jauh dari tungku. Dua pintu samping yang diapit jendela motif kusen kotak-kotak, menjadi sumber pencahayaan alami sekaligus penyalur sepoi aroma lezat kopi yang  tengah diseduh oleh sang juru racik Ibu Tini.
Dari gayanya, ibu Tini sepertinya sudah mengenal betul filosofi kupi kuli yang menjadi trademark dari kedai museum literasi. 
So Clasic

Ibu Tini Sang Juru Racik

Yang pernah baca novel Andrea Hirata atau nonton filmnya Laskar Pelangi pasti tahu sedikit tentang tradisi ngupi-nya urang Belitung. Ngupi menjadi sarana bertukar informasi dan warung kopi bagaikan kantor berita tempat informasi bersumber sekaligus  menyebar. Dari mulai kabar terkini, teraktual hingga terkupas tajam. Namun harus diuji untuk dikatakan berimbang.
Ada juga aktifitas ngupi yang biasa dilakukan oleh para pegawai, buruh, hingga pekerja kantoran sebelum mereka bertugas mengais rezqi. Dengan harapan segelas kopi yang diminum mampu menjadi pelecut energi dalam berburu sesuap nasi. Maka dikatakanlah Kupi Kuli, sebuah ritual ngupi sebelum nguli.
Ngupi dulu sebelum Nguli

Kelamaan Ngupi lupa Nguli
Cocok dengan momen yang kami hadapi saat itu bedanya kami nguli sambil ngupi.
Kopi yang disajikan adalah jenis Robusta dan Arabika. Saya dan Sultan menjajal kopi susu dan pak Prisman memilih kopi hitam. Sayup-sayup nyanyian lagu laskar pelangi dari Nidji menemani waktu ngupi kami. Sambil sesekali diskusi dan bernostalgia tentang ceritera Laskar Pelangi yang dulu pernah kami baca dan tonton.
Rangkaian seruput yang bertubi tak henti kami lakukan, semakin tinggi gelas kami angkat semakin kami ogah beranjak dari kedai ini. Belum lagi rasa kopinya yang khas bikin Niatan nguli yang sejak awal kami tekadkan semakin terancam.
Yahhhh andai saja kami bisa untuk tidak menjiwai filosofi Kupi Kuli saat itu. Cukup hanya ngupi saja dan tak perlu nguli.. Pasti lebih menarik (Angan-angan).
Sajian Kupi Kuli

Load disqus comments

0 komentar