Senin, 26 Agustus 2019

Obat Lapar itu Bernama Pempek

Pemandangan Yang membahagiakan saat lapar
Perjalanan tujuh jam dari Bangka Belitung - Palembang via Pelabuhan Tanjung Api api hampir berakhir. Dari posisi kami saat itu distasiun TVRI Sumatera Selatan masih menyisakan sekitar satu jam perjalanan lagi untuk sampai dipemberhentian terakhir, Kediaman Pak Zaimin. Disanalah rencananya kami akan menginap untuk lima hari kedepan di kota Palembang.



Tapi ternyata pukul 17.30 sore itu perjalanan kuliner kami baru saja akan dimulai. Ibu Lisbara (atasan kami saat di TVRI Bangka Belitung) mengajak kami untuk menikmati pempek khas Palembang. Ajakan yang kompak kami jawah "iya" dengan tegas!. Apalagi rasa lapar menjelang waktu makan malam semakin terasa.

"Kalian pada lapar kan, belum makan dong? ayo kita makan Pempek dulu"
ajak Ibu Lisbara, tanpa berfikir panjang saya, danil, reza dan Yayan langsung mengiyakan dan mulai menyiapkan mobil. Tirta dan Mbak Dwi (dua sahabat dari TVRI Sumsel) juga ikut serta dipesta pempek yang dalam hitungan menit akan berlangsung.

Dari TVRI Sumsel kami langsung bertolak ke jalan Datuk Moh Akib No. 76 22 Ilir, orang Palembang pasti tidak asing dengan tempat kuliner yang ada dikawasan itu, apalagi kalau bukan Pempek Chaplin 23 Ilir. Setelah berjibaku dengan sedikit kemacetan kami tiba di Pempek Chaplin. 
Hanya Beberapa Pengunjung yang Datang 
Pramusaji senyum menyambut kami, dan langsung menunjukan meja yang bisa kami duduki. Tidak banyak pengunjung yang datang saat itu, hanya kami bertujuh dengan empat orang asal Bangka Belitung yang sibuk menahan lapar level dewa. Sepi, mungkin saat itu waktunya yang berdempetan dengan magrib. Saat Adzan berkumandang Pesanan kami bertujuh  selesai dicatat. 




Kurang dari lima menit empat pempek lenggang, satu kapal selam isi telor bebek plus dua mangkok tekwan tiba dimeja. Pelayanan sigapnya membuat kami sangat bahagia. Sepertinya perut kami yang keroncongan akan segera terisi full.
Ada otak-otak yang sudah disajikan sejak kami duduk pertama kali. Rasanya memang khas tapi enak sedikit otak-otak buatan Bangka. Setelah dua bungkus otak-otak daun hatam dicicipi, saya masuk ke hidangan utama yaitu pempek lenggang. 
girang level dewa, makan-makan kitahhhh
Potongan pertama tampa hambatan masuk kemulut. Rasanya kenyal dan nikmat saat dikunyah. Persis seperti yang dibayangkan, menikmati pempek di Negeri asalnya memang tiada tanding, selalu menyisakan citarasa identik yang lezat.
Cuka kembali saya ambil dan tanpa takar langsung menyirami permukaan pempek lenggang. Selamat berlenggang wahai lidah. Gumam saya.
Alhamdulillah rasa lapar dan lelah akibat perjalanan panjang semakin surut, belum lagi sajian segar es jeruk yang tiba berhasil mengusir gerah dan pedas.
Tirta, pusat referensi kuliner Palembang
Mbak Dwi (kiri) dan Ibu Lisbara Menghangatkan suasana dengan mengobrol santai
Saya danil, reza dan yayan bertukar tatapan sayu. Tatapan yang otomatis muncul saat perut kenyang menimpa. Kami berempat sadar, jika saat itu kami  dengan gagah berhasil mengusir lapar dan lelah dihari pertama tiba dikota "wong kito galo" dengan pempek. Goksss!!😁🤣

Masih ada lima hari kedepan dan masih ada pulau kemaro dan bayt Alquran Al alkbar yang harus kami kunjungi disini. Itu artinya masih banyak suguhan pempek yang bisa kami nikmati. hahahaha
Terimakasih bu Lisbara rizky untuk sambutan Pempek nya.
Load disqus comments

0 comments